Jember – Peristiwa penganiayaan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kali ini, peristiwa tragis menimpa seorang pria bernama Buhari (55), warga Dusun Krajan, RT 03 RW 05, Desa Sukokerto, Kecamatan Sukowono, yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh tetangganya sendiri, hanya karena persoalan sepele, yakni penebangan pohon pepaya.Kejadian memilukan ini terjadi pada Senin malam, tanggal 31 Maret 2025, sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, suasana desa masih cukup tenang, hingga tiba-tiba terdengar keributan dari rumah Buhari. Menurut keterangan warga sekitar, cekcok mulut terjadi antara korban dan terlapor yang diketahui masih satu lingkungan dan bertetangga dekat.Awal Mula KejadianBerdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun dari pihak korban, insiden tersebut berawal saat Buhari mempertanyakan tindakan pelaku yang telah menebang pohon pepaya yang tumbuh di sekitar area rumah mereka. Pohon pepaya tersebut dikenal warga sekitar sebagai tanaman yang sering memberikan buah dan kerap diminta oleh tetangga maupun warga yang membutuhkan, terutama masyarakat sekitar yang kurang mampu.“Saya hanya menegur baik-baik, saya bilang ‘kenapa pohon pepaya itu ditebang, kasihan orang-orang yang sering minta buahnya untuk dimakan atau dijual,’” ujar Buhari saat ditemui usai membuat laporan di Polsek Sukowono. Namun, ucapan itu rupanya membuat pelaku tersinggung dan tidak terima.Tak lama setelah percakapan tersebut, situasi berubah panas. Tanpa diduga, pelaku langsung melayangkan pukulan kepada Buhari. Korban mengaku dipukul sebanyak lima kali oleh pelaku di bagian wajah, yang menyebabkan luka memar di bawah mata. Serangan itu membuat Buhari terjatuh dan mengalami kesakitan hebat.Korban Lapor Polisi Didampingi Ormas GRIB JAYATidak terima dengan perlakuan tersebut, Buhari segera melaporkan kejadian itu ke Polsek Sukowono, didampingi oleh seorang aktivis sekaligus anggota ormas dari Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB JAYA), yaitu Heru, yang juga dikenal sebagai aktivis vokal dari wilayah Jember Utara.Heru, yang mendampingi korban saat pelaporan, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga korban mendapatkan keadilan yang seharusnya. Ia menyatakan bahwa tidak ada alasan apa pun yang membenarkan tindakan kekerasan, apalagi dilakukan hanya karena masalah pohon.“Saya akan kawal kasus pemukulan ini sampai tuntas. Kita ingin melihat proses hukum berjalan sesuai aturan yang berlaku. Tidak boleh ada main hakim sendiri di negara hukum ini. Biarkan proses hukum berjalan dulu,” tegas Heru kepada awak media yang turut hadir di kantor polisi.Polisi Benarkan Kejadian, Masih dalam Proses PenyelidikanSementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sukowono, Bripka Risang Jati Pakuan, S.H., saat dikonfirmasi oleh wartawan membenarkan adanya laporan penganiayaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa saat ini pihak kepolisian masih dalam proses pemanggilan saksi-saksi untuk menggali keterangan lebih lanjut terkait kronologi kejadian.“Benar, kami telah menerima laporan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh tetangga korban. Untuk saat ini kami masih memanggil dan memeriksa saksi-saksi. Segala informasi masih kami kumpulkan untuk kemudian menentukan langkah hukum berikutnya,” ujar Bripka Risang.Ia juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terpancing emosi dan menyelesaikan persoalan secara damai tanpa kekerasan. Menurutnya, tindakan main hakim sendiri justru akan menimbulkan masalah baru yang berujung pada proses hukum.Warga Desa Resah, Minta Perlindungan dan Penyelesaian DamaiPeristiwa ini pun menjadi perbincangan hangat di kalangan warga Desa Sukokerto. Beberapa warga menyatakan keprihatinan atas kejadian tersebut. Banyak yang tidak menyangka bahwa persoalan pohon pepaya bisa memicu kekerasan fisik yang begitu serius.“Kami kaget. Selama ini Pak Buhari dikenal sebagai orang yang baik dan tidak pernah mencari masalah. Kami berharap kejadian ini bisa cepat selesai dan tidak terulang lagi,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.Beberapa tokoh masyarakat pun meminta agar aparat desa dan kepolisian bisa memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan antarwarga.Kasus penganiayaan yang menimpa Buhari menjadi cermin betapa pentingnya pengendalian emosi dan komunikasi antarwarga. Diharapkan, dengan adanya pendampingan dari ormas dan respons cepat dari kepolisian, korban dapat memperoleh keadilan dan pelaku mendapatkan sanksi sesuai hukum yang berlaku.Sementara itu, masyarakat Desa Sukokerto kini berharap agar kejadian ini menjadi yang terakhir dan menjadi pelajaran penting agar setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan kepala dingin, tanpa kekerasan. (r1ck)

By RIcky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *