Tan Malaka, yang bernama asli Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, adalah salah satu figur paling unik, cerdas, dan penuh pengorbanan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dijuluki oleh Mohammad Yamin sebagai “Bapak Republik Indonesia” dan diakui keahliannya dalam revolusi oleh Soekarno, warisan keteladanan Tan Malaka seringkali tersembunyi di balik perdebatan ideologi, namun sesungguhnya sangat mendalam dan relevan hingga kini.
Tan Malaka (Datuk Ibrahim) adalah arsitek pemikiran revolusioner Indonesia. Bagi seorang kader PMII—organisasi yang mengemban panji Dzikir, Fikir, dan Amal Saleh—sosok beliau bukanlah sekadar tokoh sejarah, melainkan manifestasi nyata dari perpaduan antara keintelektualan yang tajam dan keberpihakan yang total terhadap kaum Mustadh’afin (tertindas).
Keteladanan Tan Malaka bagi kader PMII dapat dirangkum melalui empat pilar utama:
1. Keteladanan Intelektual Revolusioner (Fikir)Inti dari perjuangan Tan Malaka adalah perang melawan kebodohan dan Logika Mistika (cara berpikir dogmatis tanpa nalar ilmiah), yang ia abadikan dalam “Madilog” (Materialisme, Dialektika, Logika).
– Pentingnya Tradisi Intelektual: PMII mendorong kadernya untuk ber-Fikir, yaitu membumikan pemikiran yang rasional, kritis, dan ilmiah. Tan Malaka mengajarkan bahwa revolusi harus didahului oleh revolusi mental. Kader PMII harus meneladani ini: tidak puas dengan dogma belaka, tetapi terus mengasah pisau analisis (Madilog) untuk memahami masalah sosial, politik, dan ekonomi secara mendalam, berbasis data dan fakta, bukan sekadar asumsi atau gosip.
– Kebebasan Berpikir dan Antidogmatisme: Meskipun Tan Malaka dibesarkan dalam tradisi Minangkabau yang Islami, ia berani mengambil pisau analisis modern (sosialisme-komunis) dan menyaringnya dengan konteks Indonesia. Ini menggemakan semangat PMII untuk menjadi mahasiswa yang bebas berpikir, menolak dogmatisme, dan berani mengkontekstualisasikan ajaran Islam (tafsir) dengan tantangan zaman.
2. Konsistensi Ideologis dan Pengorbanan Total (Dzikir)Kehidupan Tan Malaka adalah lambang dari pengorbanan tanpa batas dan kesetiaan mutlak pada cita-cita kemerdekaan 100%.
– Hidup dalam Penyamaran: Selama puluhan tahun, beliau hidup dalam pengasingan, berpindah-pindah negara, dan menggunakan puluhan nama samaran. Ia mengorbankan kenyamanan, jabatan, dan keselamatan demi keyakinannya pada Republik. Bagi kader PMII, ini adalah teladan nyata dari konsistensi moral dan integritas ideologis. Perjuangan sejati menuntut pengorbanan, kejujuran, dan kesediaan untuk bekerja “di bawah tanah” (tidak menonjolkan diri) demi cita-cita yang lebih besar dari kepentingan pribadi.
– Pro Rakyat Kecil: Walaupun ia pernah menjadi petinggi Komintern, hatinya tetap berpihak pada kaum buruh dan petani. Ketegasan sikapnya ini sejalan dengan spirit NDP PMII yang menekankan nilai-nilai Humanisme dan Keadilan. Dzikir (mengingat Allah) bagi kader PMII harus termanifestasi dalam jihad konstektual, yaitu keberpihakan total pada kelompok yang termarjinalkan.
3. Keberpihakan pada Pendidikan Kerakyatan (Amal Saleh)Tan Malaka melihat pendidikan bukan hanya alat untuk mencari kerja, tetapi sebagai senjata utama pembebasan.
– Guru Revolusioner: Ia memulai karirnya dengan mendirikan sekolah di Deli, Sumatera Utara, yang bertujuan mengangkat derajat kaum pribumi yang tertindas. Pendidikan baginya harus mengajarkan kesadaran kelas dan semangat antikolonialisme.
– Amal Saleh PMII: Keteladanan ini mendorong kader PMII untuk menjadikan kampus dan masyarakat sebagai lahan Amal Saleh. Bukan sekadar mengejar nilai akademik, tetapi menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberdayakan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang adil dan berpihak. Kader harus menjadi pendidik sekaligus aktivis yang menghubungkan teori di kampus dengan problem nyata di masyarakat.
4. Nasionalisme Inklusif dan RevolusionerTan Malaka dijuluki “Bapak Republik Indonesia” oleh Muhammad Yamin karena konsep Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ia tulis jauh sebelum proklamasi.
– Visi Kemerdekaan 100%: Ia menolak segala bentuk kompromi yang hanya setengah hati dengan penjajah. Ketegasan visinya ini mengajarkan kader PMII pentingnya memiliki cita-cita yang jelas dan total dalam perjuangan, baik untuk kemerdekaan bangsa maupun untuk kemerdekaan spiritual dan intelektual diri sendiri.
– Nasionalisme sebagai Gerakan: Baginya, nasionalisme harus inklusif dan berbasis massa, menyatukan seluruh elemen rakyat. Ini sejalan dengan cita-cita PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang menjunjung tinggi kebangsaan dan keislaman (Ahlussunnah wal Jama’ah), mengintegrasikan nilai-nilai Islam sebagai energi untuk membangun nasionalisme yang pro-kerakyatan dan antidiskriminasi.
Tan Malaka adalah sebuah cermin di mana kader PMII bisa melihat bayangan ideal seorang Intelektual Organisatoris—yang memiliki otak tajam setajam pisau analisis Madilog, hati yang teguh sedalam Dzikir, dan kaki yang tak pernah lelah untuk ber-Amal Saleh bagi rakyat.
Penulis : Ridwan Ariansyah, S.PdArbitrase : Demisioner ketua PMII komisariat universitas Argopuro Jember
Editor : Imam Baihaki
