Oleh: Azza Afirul Akbar Dosen Bimbingan Konseling IslamUniversitas Islam Cordoba Banyuwangi
Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat terus menerus disuguhi berbagai kabar yang kurang menenangkan. Nilai tukar rupiah yang melemah, harga kebutuhan pokok yang perlahan naik, pasar saham yang bergejolak, kasus korupsi dana MBG yang baru terungkap, kenaikan BBM yang sudah mulai diberlakukan, hingga pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah daerah. Belum lagi berbagai pernyataan pejabat publik yang terkadang menimbulkan kontroversi dan bukan malah menenangkan, tapi membuat semakin kacau balau. Mulai dari presiden hinggan pejabat yang ada di bawahnya.
Manusia pada dasarnya membutuhkan rasa aman. Kita sebagai manusia memang tidak selalu menginginkan kehidupan yang sempurna, tetapi setidaknya kita berharap selalu ada harapan yang baik dan membahagiakan setiap harinya. Masyarakat menginginkan pekerjaan yang layak, harga kebutuhan masih terjangkau, taraf hidup yang baik, hingga dapat membuat perencanaan masa depan keluarga yang ideal. Namun hari ini, yang terjadi adalah berbagai ketidakpastian datang secara bersamaan, kabar buruk dari pemerintah sering datang, sehingga membuat rasa aman itu perlahan mulai terkikis.
Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai ketidakpastian yang berkepanjangan. Menariknya, banyak penelitian menunjukkan bahwa manusia sering kali lebih takut terhadap ketidakpastian itu sendiri daripada masalah yang terjadi. Ketika seseorang mengetahui bahwa ia sedang menghadapi kesulitan, biasanya ia masih mampu mengelola masalah yang terjadi. Namun ketika yang muncul adalah ketidakjelasan dan kabar yang terkesan buruk dari pemerintah, maka kecemasan tersebut akan tumbuh lebih cepat dari biasanya.
Masalahnya menjadi semakin kompleks karena kita hidup di era mudahnya akses informasi yang bahkan terkadang informasi itu datang sendiri ketika kita membuka sosial media, baik dari berita maupun dari influencer yang membuat konten tentang berita terbaru. Hampir setiap hari, bahkan kadang dalam sehari, banyak berita baru yang bermunculan di media sosial. Ketika satu isu baru muncul, bahkan belum selesai dipahami, muncul lagi isu terbaru. Akibatnya, masyarakat terus-menerus berada dalam kondisi lelah, capek, dan bingung dengan situasi yang terjadi. Banyak orang mengawali hari dengan membuka sosial medianya, berhadap ada kabar baik hari ini, namun yang terjadi justru kabar kurang menyenangkan yang memicu kekhawatiran.
Fenomena ini bahkan memiliki istilah tersendiri yang disebut dengan doomscrolling, yang berarti kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus. Semakin banyak informasi yang diterima, semakin besar pula kecemasan yang dirasakan. Ironisnya, informasi yang seharusnya membantu masyarakat memahami situasi saat ini, justru kadang membuat mereka semakin takut dan bingung, karena pemerintah sendiri dinilai kurang mampu membuat masyarakat tenang. Kritik yang dilontarkan oleh para pengamat, aktivis, akademisi, dan masyarakat cenderung diabaikan, bahkan dinilai sebagai narasi menyalahkan, bukan malah menjadi bahan evaluasi. Jika memang kondisinya tidak baik-baik saja, setidaknya pemerintah membuat statement yang menenangkan, memberikan optimisme agar masyarakat tidak merasa cemas dan takut.
Dalam kondisi seperti ini, peran pemerintah sesungguhnya tidak hanya mengelola kebijakan ekonomi dan administrasi negara. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab moril dan psikologis untuk menciptakan rasa tenang dan aman di tengah masyarakat. Setiap kebijakan dan setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik, memiliki dampak yang jauh lebih besar karena itu menunjukkan bahwa pemimpin mampu mengendalikan situasi yang terjadi.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu memiliki ketahanan psikologis yang kuat. Tidak semua informasi perlu dikonsumsi tanpa batas. Kita perlu belajar memilah berita, memverifikasi informasi, dan menjaga keseimbangan antara mengikuti perkembangan situasi dengan menjaga kesehatan mental diri sendiri. Terkadang, beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk media sosial bukan sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap kondisi negara, melainkan sebuah cara untuk menjaga kewarasan.
Pada akhirnya, tantangan yang sedang dihadapi bangsa ini bukan hanya soal masalah ekonomi semata, ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu kondisi psikologis masyarakat. Sebab bangsa yang sehat tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tapi juga tingkat kebahagiaan masyaraktanya karena mendapatkan rasa aman, merasa optimis akan masa depannya, sehingga dapat menjalani hidup dengan tenang.
Hari ini mungkin banyak hal yang membuat rakyat merasa khawatir. Namun di tengah segala kegaduhan yang ada, kita perlu menyadari bahwa menjaga kewarasan adalah bentuk ketahanan yang tidak kalah penting. Sebab ketika rasa tenang menjadi sesuatu yang langka, maka merawat kewarasan bukan lagi sekedar pilihan, tetapi merupakan kebutuhan bersama.
