Oleh : Miftahus Surur, S.E., M.E., AWP-S Kaprodi Ekonomi Syariah STEBI Al-Husnani Bondowoso, Direktur JPZIS As Syafaah Jember
Dari Bondowoso, sebuah daerah di ujung timur Jawa Timur, Miftahus Surur membangun perjalanan yang tidak hanya bertumpu pada pendidikan, tetapi juga pada keberanian mengambil peran, mengelola tanggung jawab, dan memimpin.
Jalannya tidak selalu lurus. Ada proses panjang yang harus dilalui: sekolah, pesantren, organisasi, perguruan tinggi, hingga ruang akademik yang kini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Setiap fase meninggalkan bekas. Pesantren membentuk kedisiplinan dan kemandirian. Organisasi mengasah keberanian berbicara serta kemampuan bekerja bersama. Perguruan tinggi memperluas cara pandang, sementara pengalaman kepemimpinan mengajarkannya untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihan.
Kini, Miftahus Surur tidak lagi hanya dikenal sebagai seorang pembelajar. Ia telah tumbuh menjadi akademisi dan dipercaya memimpin sebuah program studi di perguruan tinggi.
Perjalanan itu bermula dari langkah sederhana, tetapi terus berkembang menjadi pencapaian yang berarti.
AWAL PERJALANAN
Miftahus Surur lahir di Bondowoso pada 14 Februari 1998. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang sederhana, tetapi sarat dengan nilai-nilai pembentukan karakter.
Pendidikan dasarnya ditempuh di TK Al-Fattah, kemudian berlanjut ke MI Al-Fattah dan MTs Al-Fattah Bondowoso. Di lembaga-lembaga pendidikan tersebut, ia mulai mengenal pentingnya ketekunan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus belajar.
Tahun 2014 menjadi titik penting dalam perjalanan pendidikannya. Miftahus melanjutkan studi ke TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, sebuah lingkungan pesantren yang kemudian memberi pengaruh besar terhadap cara berpikir dan sikap hidupnya.
Di pesantren ia tidak hanya berhadapan dengan pelajaran dan rutinitas akademik. Ia juga belajar hidup mandiri, mengatur waktu, menaati aturan, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta membangun relasi dengan banyak orang dari latar belakang berbeda.
Pengalaman itu menjadi fondasi penting bagi perjalanan berikutnya. Pesantren mengajarkannya bahwa pendidikan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Pendidikan juga membentuk cara seseorang bersikap, menghadapi tantangan, dan mengambil peran di tengah masyarakat.
MENEMUKAN DUNIA ORGANISASI
Ketertarikan Miftahus terhadap organisasi tumbuh seiring dengan bertambahnya pengalaman. Ia melihat organisasi sebagai ruang belajar yang hidup—tempat gagasan diuji, keberanian dilatih, dan tanggung jawab dijalankan secara nyata.
DARI ORGANISASI MENUJU KEPEMIMPINAN
Pada 2016 hingga 2018, ia dipercaya terlibat dalam bidang pendidikan dan pengajaran ISMI. Peran tersebut menjadi pengalaman awal yang memperkenalkannya pada kerja-kerja pengelolaan program, koordinasi, dan pelayanan pendidikan.
Pengalaman itu kemudian ia bawa ketika memasuki dunia perguruan tinggi.
Pada 2019, Miftahus melanjutkan pendidikan ke UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Di kampus ia tidak memilih untuk hanya berfokus pada kegiatan akademik. Ia aktif membangun pengalaman organisasi dan mengambil peran dalam berbagai ruang pengembangan mahasiswa.
Ia dipercaya menjadi Ketua Umum HMPS Manajemen Zakat dan Wakaf. Posisi tersebut menuntut kemampuan mengelola organisasi, menyusun agenda, membangun komunikasi, serta menggerakkan anggota untuk mencapai tujuan bersama.
Pada periode 2021 hingga 2022, ia kembali dipercaya menjadi Pengurus Departemen Keilmuan PMII Rayon FEBI. Dalam peran ini, perhatian terhadap pengembangan intelektual dan tradisi keilmuan menjadi bagian penting dari tanggung jawabnya.
Bagi Miftahus Surur, jabatan-jabatan tersebut bukan sekadar daftar pengalaman. Di balik setiap amanah, ada proses belajar yang membentuk kemampuannya dalam memimpin, menyelesaikan persoalan, dan memahami kebutuhan orang lain.
Perjalanan organisasi Miftahus terus berkembang. Ia terlibat dalam Departemen Keilmuan IKMPB Bondowoso dan menjalankan peran di bidang kaderisasi Komisariat PMII UIN KHAS Jember.
Keterlibatannya dalam bidang keilmuan dan kaderisasi memperlihatkan perhatian yang konsisten terhadap pengembangan sumber daya manusia. Ia tidak hanya berfokus pada kegiatan administratif, tetapi juga pada bagaimana organisasi dapat melahirkan anggota yang berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, dan siap mengambil peran.
Pada periode 2022 hingga 2023, Miftahus dipercaya menjadi Pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN KHAS Jember. Posisi ini memperluas ruang geraknya. Ia berhadapan dengan kebutuhan membangun komunikasi eksternal, menjalin hubungan kelembagaan, serta membawa kepentingan organisasi ke ruang yang lebih luas.
Pada periode yang sama, ia juga dipercaya menjadi Kepala Departemen Intelektual Forum Nasional Manajemen Zakat dan Wakaf serta Kepala Student Research Program PC IPNU Bondowoso. Rangkaian peran tersebut menunjukkan konsistensinya dalam menggabungkan kepemimpinan, pengembangan intelektual, dan penelitian. Ia tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga berusaha menjadikan organisasi sebagai ruang untuk melahirkan gagasan dan memperkuat kapasitas generasi muda.
Dari berbagai pengalaman itu, Miftahus belajar bahwa kepemimpinan bukanlah perkara posisi. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengubah amanah menjadi kerja nyata, mengelola perbedaan menjadi kekuatan, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
MELANGKAH KE YOGYAKARTA
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Miftahus tidak berhenti pada pencapaian tersebut. Ia memilih melanjutkan perjalanan akademiknya ke Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan intelektual di Indonesia.
Pada 2023 hingga 2025, ia menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lingkungan akademik yang lebih luas memberinya kesempatan untuk memperdalam pengetahuan, memperkaya perspektif, dan berinteraksi dengan mahasiswa serta akademisi dari berbagai daerah.
Di lingkungan pascasarjana, ia aktif dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktivitas tersebut menjadi ruang baginya untuk tetap berkontribusi di luar kegiatan perkuliahan.
Pada periode 2024 hingga 2025, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Magister Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Amanah itu mempertemukan pengalaman akademik dan kepemimpinannya dalam skala yang lebih luas. Ia harus mengelola organisasi mahasiswa pascasarjana, membangun komunikasi antarmahasiswa, serta mendorong terciptanya ruang diskusi yang produktif.
Di Yogyakarta, Miftahus Surur juga terus mengasah kemampuan membaca berbagai persoalan, menyusun gagasan, membangun jejaring, dan menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
DARI AKTIVIS MENJADI AKADEMISI
Jika ditarik dari awal, ada satu benang merah yang kuat dalam perjalanan Miftahus Surur: pendidikan selalu menjadi pusat dari setiap langkahnya. Ia tumbuh dari lingkungan sekolah dan pesantren. Ia berkembang melalui organisasi. Ia memperluas wawasan di perguruan tinggi dan pendidikan pascasarjana. Kini, ia memasuki fase baru sebagai seorang akademisi.
Perubahan peran itu membawa makna tersendiri. Dahulu, ia duduk sebagai pelajar dan mahasiswa yang menerima pengetahuan. Kini, ia berdiri sebagai pendidik yang memiliki tanggung jawab untuk membagikan pengetahuan dan mendampingi mahasiswa.
Pengalaman panjangnya menjadi modal penting. Ia memahami bagaimana rasanya menjadi mahasiswa yang sedang mencari arah, menghadapi tuntutan akademik, dan membutuhkan ruang untuk berkembang. Karena itu, perannya sebagai akademisi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membangun lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, berani berpendapat, dan mampu mengembangkan potensi. Pengalaman organisasi membantunya memahami pentingnya kerja kolektif. Pengalaman penelitian memperkuat cara berpikir analitis. Sementara pengalaman memimpin membentuk keberanian untuk mengambil keputusan. Semua itu menjadi bekal ketika ia memasuki dunia akademik secara lebih serius.
MEMASUKI BABAK BARU
Perjalanan Miftahus Surur kini memasuki babak baru. Ia dipercaya menjadi Kepala Program Studi di salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam yang terletak di Wringin Bondowoso. Amanah tersebut menjadi pengakuan atas proses panjang yang telah ia jalani. Namun, di saat yang sama, posisi itu juga menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar.
Sebagai pimpinan program studi, ia tidak hanya bertugas memastikan kegiatan akademik berjalan. Ia juga dituntut untuk ikut meningkatkan mutu pendidikan, mengembangkan program pembelajaran, mendampingi mahasiswa, serta membangun arah pengembangan program studi.
Di balik jabatan tersebut, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Ada kurikulum yang perlu terus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ada kualitas pembelajaran yang harus dijaga. Ada mahasiswa yang membutuhkan pendampingan. Ada pula tantangan untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi, integritas, dan daya saing.
Pada titik ini, seluruh pengalaman masa lalu menemukan relevansinya.
Pendidikan pesantren membentuk kedisiplinan. Pengalaman organisasi melatih kemampuan mengelola orang dan program. Aktivitas keilmuan memperkuat tradisi berpikir. Pengalaman memimpin membangun keberanian untuk mengambil tanggung jawab. Dia membawa semua bekal itu ke ruang akademik—ruang yang menuntut ketekunan, ketelitian, dan komitmen jangka panjang.
CLOSING
Perjalanan Miftahus Surur bermula dari Bondowoso, dari lingkungan pendidikan yang sederhana dan langkah-langkah kecil yang dijalani dengan tekun.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke pesantren, memasuki dunia organisasi, menempuh pendidikan tinggi di Jember, memperluas pengalaman akademik di Yogyakarta, dan mengambil berbagai peran kepemimpinan di sepanjang proses tersebut.
Dari ruang kelas, ia belajar memahami pengetahuan.
Dari pesantren, ia belajar tentang disiplin dan kemandirian.
Dari organisasi, ia belajar memimpin dan bekerja bersama.
Dari perguruan tinggi, ia belajar memperluas gagasan.
Dan dari setiap amanah, ia belajar bahwa pencapaian selalu datang bersama tanggung jawab.
Kini, ia berdiri sebagai akademisi dan dipercaya memimpin program studi. Posisi itu bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk membangun pendidikan dan menyiapkan generasi masa depan.
Kisah Miftahus Surur menunjukkan bahwa latar belakang sederhana bukanlah batas untuk melangkah jauh. Dengan ketekunan, keberanian mengambil peran, dan kemauan untuk terus belajar, seseorang dapat membuka jalan menuju ruang-ruang yang lebih luas.
Ia adalah anak muda dari Bondowoso yang memilih untuk terus bergerak.
Bukan hanya mengejar pencapaian pribadi, tetapi juga berusaha menjadikan setiap pengalaman sebagai bekal untuk memberi manfaat.
Hari ini, ia berada di ruang akademik. Dan dari ruang itulah, awal perjalanan baru akan dimulai.
