Perhelatan Konferensi Koordinator Cabang (Konkorcab) PMII Jawa Timur sejatinya adalah momentum kaderisasi struktural yang menjadi titik temu antara evaluasi kepemimpinan masa lalu dan perumusan arah gerak masa depan organisasi. Namun sayangnya, Konkorcab kali ini yang diselenggarakan di Bondowoso tidak memberikan kesan membahagiakan ataupun mencerdaskan, melainkan justru menampilkan wajah suram organisasi. Bukan hanya karena dinamika forum yang stagnan dan tidak produktif, tetapi juga karena hadirnya figur strategis seperti Sekretaris Jenderal PB PMII, M. Irkham Thamrin, yang bukannya hadir sebagai dinamisator forum, justru memperkeruh suasana dengan kepentingan sempit dan manuver yang tidak etis.
Sejak awal forum digelar, tidak terlihat upaya strategis dan terstruktur dari PB PMII untuk memastikan bahwa Konkorcab ini berjalan sesuai dengan cita-cita kaderisasi dan pengembangan organisasi. Nilai-nilai fundamental PMII, seperti independensi, intelektualitas, serta komitmen terhadap kaderisasi yang adil dan demokratis, tidak tampak menjadi kerangka utama forum. Dalam konteks ini, kehadiran Sekjend PB PMII di lokasi Konkorcab semestinya menjadi harapan bagi para kader bahwa problematika yang terjadi akan didinamisasi dan ditransformasikan menuju arah yang lebih konstruktif. Tetapi harapan itu pupus dengan cepat, digantikan kekecewaan yang mendalam.
Alih-alih menjadi wasit yang netral dan bijak, Sekjend Irkham justru tampil sebagai aktor yang dengan terang-terangan mengkonsolidasikan yang tentu secara eksplisit menunjukkan keberpihakannya pada satu calon, yakni Elza Nikma Yunita. Dilain hal fakta bahwa Elza berasal dari PC PMII Jombang—satu lembaga yang juga menaungi Irkham—menjadi bukti kuat bahwa yang terjadi bukanlah konsolidasi organisasi, tetapi konsolidasi kekuasaan dengan motif kekeluargaan menggunakan jaringan struktural.
Politik Kekuasaan yang Tak Bermoral
PMII sebagai organisasi kader seharusnya menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika kepemimpinan. Namun, apa yang dipertontonkan Irkham di Bondowoso sama sekali tidak merepresentasikan watak moral kepemimpinan yang layak menjadi teladan. Ia datang bukan sebagai problem solver, bukan pula sebagai pemimpin yang membawa keharmonisan dan rasionalitas politik, melainkan sebagai operator lapangan dari agenda politik yang sempit dan penuh hasrat kuasa.
Manuver-manuver politik yang dimainkan Irkham bukan hanya mencederai netralitas PB PMII, tetapi juga menurunkan martabat kelembagaan PMII di mata kader-kadernya sendiri. Ia tampak lebih sibuk menyusun strategi pemenangan untuk kandidat yang berasal dari lingkaran dekatnya ketimbang memikirkan bagaimana forum ini bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang memperkuat organisasi.
Lebih parah lagi, keterlibatan Irkham dalam dugaan penyembunyian pimpinan sidang menjadi indikator bahwa forum ini sejak awal telah diarahkan untuk memuluskan kepentingan satu pihak. Ini bukan hanya tindakan yang tidak etis, tetapi juga mencerminkan kehendak kuasa yang anti-demokrasi. Sekjend seharusnya menjaga marwah organisasi, bukan justru memperdagangkannya untuk kepentingan kolega.
Salah satu kesalahan terbesar yang terus diwariskan dalam tubuh PMII adalah menjadikan organisasi sebagai alat untuk membangun jejaring kekuasaan yang sempit dan transaksional. Konkorcab kali ini menunjukkan betapa kuatnya penyakit kronis ini masih menggerogoti tubuh organisasi. Figur seperti Irkham yang mestinya menjadi penjaga nilai, justru menjelma menjadi aktor utama perusak nilai.
Organisasi kader tidak boleh menjadi panggung sandiwara politik transaksional. Ia harus menjadi ruang penggodokan nilai, visi, dan integritas. Tapi apa yang bisa diharapkan jika pemegang mandat tertinggi organisasi justru mengkhianati prinsip dasarnya? Jika konkorcab hari ini hanya menjadi perpanjangan tangan dari agenda personal dan sektarian, maka kita patut mempertanyakan: untuk siapa PMII ini sebenarnya dijalankan?
Seruan untuk Kembali ke Akal Sehat
Melihat kondisi ini, tidak berlebihan jika kami menyuarakan seruan keras kepada Sekjend PB PMII M. Irkham Thamrin: kembalilah ke akal sehat! Sudah cukup organisasi ini diperalat untuk kepentingan sempit dan kekuasaan personal. Jangan jadikan forum-forum kaderisasi sebagai panggung konflik dan kecurangan. Jangan permainkan integritas organisasi hanya demi satu dua nama dari lingkaran kekuasaanmu.
Jabatan Sekretaris Jenderal bukanlah hak pribadi untuk menyusun skenario-skenario politik culas. Itu adalah amanat suci kader se-Indonesia, yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, akhlak, dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur organisasi. Jika Sekjend Irkham masih memiliki sisa-sisa akal sehat dan moralitas kader, maka seharusnya ia mengambil langkah mundur dari intervensi aktif di forum Konkorcab. Biarkan forum ini berjalan secara otonom, sesuai dengan semangat konstitusi dan nilai-nilai PMII. Jika tidak, maka sejarah akan mencat
