Oleh: Imam Baihaki, S.Pd. Kabiro Pendidikan, Pelatihan, dan Beasiswa PC PMII Kabupaten Jember
Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei bukan sekadar seremoni mengenakan baju adat atau upacara bendera. Bagi kita, kaum pergerakan, ini adalah momentum sakral untuk mengaudit sejauh mana “Kompas Pendidikan” kita mengarah pada cita-cita luhur Ki Hajar Dewantara: Memanusiakan Manusia.
Pendidikan Bukan Sekadar Pabrik Ijazah
Di era disrupsi ini, kita menghadapi tantangan besar di mana pendidikan seringkali terjebak dalam mekanisasi. Sekolah dan kampus terkadang tampak seperti pabrik yang hanya mengejar target administratif dan angka-angka statistik. Kurikulum yang padat seringkali melupakan esensi dari ngelmu, yakni pembentukan karakter dan nalar kritis.
Sebagai kader PMII, kita harus melihat bahwa pendidikan adalah alat perlawanan terhadap ketidaktahuan dan penindasan. Jika pendidikan hanya mencetak pekerja tanpa jiwa kepemimpinan dan kepekaan sosial, maka kita sedang mengalami kemunduran literasi yang nyata.
Aksesibilitas dan Keadilan Beasiswa
Jember, sebagai kota pendidikan, memiliki potensi besar namun juga tantangan yang kompleks. Masih banyak kawan-kawan kita yang harus mengubur mimpinya karena tembok ekonomi yang tinggi. Di sinilah peran negara dan pemangku kebijakan diuji. Beasiswa seharusnya tidak hanya menjadi “hadiah” bagi mereka yang beruntung secara akademik, tetapi juga menjadi “jembatan” bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi namun memiliki semangat juang yang tinggi. Keadilan distribusi beasiswa adalah harga mati untuk memastikan tidak ada anak bangsa yang tertinggal di belakang meja belajar.
Literasi Digital dan Karakter Bangsa
Teknologi adalah keniscayaan, namun ia hanyalah alat. Tantangan guru dan dosen saat ini bukan lagi sekadar mentransfer informasi karena Google sudah menyediakannya melainkan menanamkan nilai-nilai etik dan moral.
Pendidikan harus mampu menjawab:
Bagaimana teknologi digunakan untuk kemaslahatan umat?
Bagaimana nalar kritis tetap terjaga di tengah banjir hoaks?
Penutup: Merdeka Belajar yang Sebenarnya
Merdeka belajar jangan hanya menjadi slogan birokrasi. Merdeka yang sesungguhnya adalah ketika mahasiswa dan pelajar berani berpikir berbeda, berani bertanya, dan memiliki kemandirian dalam mencari kebenaran.
Mari kita jadikan Hardiknas tahun ini sebagai titik tolak untuk memperkuat kolaborasi. Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. PC PMII Jember, melalui Biro Pendidikan, Pelatihan, dan Beasiswa, akan terus berkomitmen menjadi garda terdepan dalam mengawal isu-isu pendidikan, memastikan akses yang setara, dan mencetak kader-kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Tangan Terkepal dan Maju Ke Muka!
