Oleh Alda Syafira Dosen/Dekan FTIK Universitas Islam Cordoba Banyuwangi
Hari raya seharusnya menjadi ruang pulang, bukan sekadar pulang ke rumah, tetapi pulang ke suasana batin yang lebih jernih. Kita saling bermaafan, merajut kembali relasi yang mungkin sempat retak, dan meneguhkan kembali nilai kemanusiaan yang sering tergerus rutinitas. Namun, di tengah hangatnya suasana itu, ada satu fenomena yang nyaris selalu berulang yaitu silaturahmi yang perlahan berubah menjadi interogasi.
“Kapan menikah?”
“Sudah kerja di mana sekarang? Gajinya berapa?”
“Kapan punya anak?”
“Kapan lanjut kuliah?”
Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur begitu saja, ringan di lisan, tetapi sering kali berat diterima. Ia hadir seolah sebagai bentuk perhatian, padahal tidak jarang berubah menjadi tekanan sosial yang halus, bahkan melukai orang lain.
Yang menarik, kita jarang benar-benar memikirkan pertanyaan itu sendiri. Mengapa kita menanyakannya? Apa makna di baliknya? Dan yang lebih penting apakah kita sendiri memahami kompleksitas jawaban dari pertanyaan tersebut?
Di sinilah ironi itu muncul. Kita menuntut jawaban atas sesuatu yang sering kali kita sendiri tidak pahami kedalamannya. Padahal ada beberapa hal yang memang itu area Tuhan. Kita tidak benar-benar tahu jawabannya. Sama halnya dengan menanyakan “kapan kamu mati?” jawabannya; pasti tidak tahu.
Dalam perspektif etika, Imam Al-Ghazali pernah menekankan bahwa lisan adalah cermin hati. Apa yang keluar dari mulut seseorang mencerminkan kualitas batinnya. Jika lisan terbiasa bertanya tanpa empati, boleh jadi hati pun sedang kehilangan kepekaan. Bertanya bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga tindakan moral.
Hari raya yang seharusnya menjadi momentum penyucian diri justru kadang memperlihatkan betapa kita belum selesai dengan diri sendiri. Kita sibuk mengukur hidup orang lain dengan standar yang kita anggap “normal”: menikah di usia tertentu, punya anak dalam rentang waktu tertentu, atau menempuh pendidikan sesuai jalur yang dianggap ideal. Padahal, setiap manusia berjalan dengan ritme dan takdirnya masing-masing.
Dalam filsafat eksistensialisme, Soren Kierkegaard mengingatkan bahwa hidup manusia adalah perjalanan yang sangat personal. Kebenaran eksistensial tidak bisa diseragamkan. Apa yang menjadi keputusan besar dalam hidup seseorang seperti menikah, berkarier, atau melanjutkan studi adalah bagian dari pergulatan batin yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar pertanyaan basa-basi.
Sayangnya, dalam praktik sosial kita, pertanyaan-pertanyaan itu justru direproduksi tanpa refleksi. Ia menjadi tradisi yang diwariskan, diulang, dan dianggap wajar. Kita menanyakannya bukan karena benar-benar ingin memahami, tetapi karena “sudah biasa begitu”.
Di titik ini, silaturahmi kehilangan ruhnya.
Padahal dalam ajaran Islam, silaturahmi bukan hanya tentang bertemu, tetapi juga tentang menjaga perasaan dan martabat sesama. Rasulullah mengajarkan bahwa seorang Muslim adalah mereka yang membuat orang lain selamat dari lisan dan perbuatannya. Artinya, bahkan kata-kata yang tampak sederhana pun harus dipertimbangkan dampaknya.
Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bahwa kita sering kali tidak nyaman dengan “ketidaktahuan”. Kita ingin segala sesuatu jelas, terukur, dan sesuai ekspektasi sosial. Pertanyaan-pertanyaan tadi menjadi cara untuk “mengisi kekosongan” dalam percakapan, sekaligus cara halus untuk menegaskan norma.
Namun, justru di situlah kita perlu belajar diam.
Filsuf seperti Ludwig Wittgenstein pernah mengatakan, “Apa yang tidak bisa kita bicarakan, sebaiknya kita diamkan.” Dalam konteks hari raya, mungkin bukan semua hal perlu ditanyakan. Ada wilayah-wilayah hidup yang lebih baik dihormati daripada diusik.
Hari raya seharusnya menjadi momen untuk memperluas empati, bukan mempersempitnya. Mengganti pertanyaan-pertanyaan yang menekan dengan percakapan yang menguatkan. Dari “kapan menikah?” menjadi “apa yang sedang kamu perjuangkan saat ini?”. Dari “kapan punya anak?” menjadi “semoga kamu selalu diberi kebahagiaan dalam hidupmu.”
Perubahan kecil dalam cara bertanya bisa menghadirkan perbedaan besar dalam rasa.
Akhirnya, mungkin kita perlu bertanya ulang bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri. Apakah kehadiran kita dalam silaturahmi membawa ketenangan, atau justru kegelisahan? Apakah kata-kata kita menjadi jembatan, atau malah menjadi beban?
Hari raya bukan sekadar tentang kembali ke fitrah dalam arti ritual, tetapi juga kembali pada kehalusan budi dan kedalaman empati. Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah pertemuan fisik tanpa makna silaturahmi yang berubah menjadi interogasi. Di situlah, kita kehilangan esensi dari hari yang seharusnya suci.
Semoga kita senantiasa belajar menahan diri dari bertanya yang tidak perlu, dan mulai menghadirkan diri dengan lebih utuh: mendengar tanpa menghakimi, menyapa tanpa membebani, dan menghargai tanpa menuntut penjelasan. Agar hari raya benar-benar menjadi ruang pulang—bukan hanya bagi raga, tetapi juga bagi hati yang ingin dimengerti, diterima, dan dimanusiakan.
