Oleh : Alda Syafira, M.Pd Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Di sebuah pagi yang tenang, secangkir kopi sering menjadi teman setia perempuan. Ia tidak sekadar minuman pengusir kantuk, tetapi ruang kecil untuk berpikir, merenung, dan berdialog dengan diri sendiri. Dari balik uap kopi yang perlahan naik, lahir pertanyaan-pertanyaan penting tentang hidup, pilihan, dan mimpi yang ingin digapai. Di sanalah perempuan belajar membaca dirinya dengan jujur.

Kopi mengajarkan satu hal sederhana, rasa pahit tidak selalu harus dihindari. Ia justru menjadi bagian dari kenikmatan. Demikian pula hidup perempuan. Dalam perjalanan menuju keberdayaan, pahit, luka, dan kegagalan adalah bagian yang tak terpisahkan. Menjadi perempuan berdaya bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi memiliki keberanian untuk tetap melangkah meski masalah itu ada.

Selama berabad-abad, perempuan sering didefinisikan oleh batasan. Ia diukur dari peran domestik, dinilai dari kepatuhan, dan dibatasi oleh ekspektasi sosial. Namun zaman terus bergerak. Hari ini, perempuan tidak lagi cukup hanya “kuat”, tetapi juga perlu sadar akan potensinya. Perempuan berdaya adalah ia yang mengenali kemampuannya, mengasahnya, dan berani menempatkan dirinya sebagai subjek, bukan sekadar objek dalam narasi kehidupan.

Secangkir kopi sering diminum sendiri, tetapi juga kerap dinikmati bersama. Di situlah makna kolaborasi hadir. Filsuf feminis Hannah Arendt pernah menekankan bahwa tindakan manusia hanya bermakna ketika hadir di ruang bersama. Perempuan berdaya tidak berjalan sendirian. Ia tumbuh dalam jejaring, saling menguatkan, saling membuka jalan. Kolaborasi antarsesama perempuan dan juga dengan laki-laki yang setara adalah kunci untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan. Sebab mimpi yang diraih bersama selalu lebih kokoh daripada mimpi yang dipikul sendirian.

Dalam konteks ini, keberdayaan perempuan bukan tentang mengalahkan siapa pun, melainkan mengalahkan rasa takut dalam diri sendiri. Takut gagal, takut dinilai, takut melangkah terlalu jauh semua itu sering menjadi tembok paling tinggi. Padahal, jika direnungkan, tidak ada yang benar-benar perlu ditakuti dalam hidup selain satu hal yang pasti yakni kematian. Selain itu, segala ketakutan lain hanyalah kemungkinan, bukan kepastian.

Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang berani bermimpi dan menagih mimpinya satu per satu. Ia tidak selalu melompat jauh; kadang ia melangkah perlahan, tetapi konsisten. Ia memahami bahwa mimpi tidak selalu datang dalam bentuk gemerlap, melainkan melalui kerja sunyi, disiplin, dan kesabaran. Seperti kopi yang membutuhkan waktu untuk diseduh, mimpi pun memerlukan proses untuk matang.

Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, perempuan sering dituntut untuk sempurna dalam banyak peran sekaligus. Di sinilah kesadaran menjadi penting. Berdaya bukan berarti memikul semua beban sendirian, tetapi mampu memilih, menentukan batas, dan merawat diri. Secangkir kopi di pagi atau malam hari bisa menjadi simbol jeda pengingat bahwa perempuan juga berhak berhenti sejenak, tanpa rasa bersalah.

Selama ini, perempuan kerap ditempatkan dalam batas-batas sosial yang sempit. Ia dinilai dari kepatuhan, dikurung oleh ekspektasi, dan sering kali disuruh menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak ia rancang. Amina Wadud, ulama perempuan progresif, pernah menegaskan bahwa Islam tidak datang untuk membungkam perempuan, tetapi membebaskannya sebagai subjek moral yang utuh.

Menjadi perempuan berdaya juga berarti berani bersuara. Suara untuk diri sendiri, untuk sesama, dan untuk nilai-nilai keadilan. Dalam dunia yang masih sering timpang, suara perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan. Dari ruang domestik hingga ruang publik, dari meja diskusi hingga pengambilan keputusan, kehadiran perempuan yang sadar dan berdaya akan selalu membawa perspektif yang memanusiakan.

Pada akhirnya, perempuan dan secangkir kopi adalah metafora tentang kehidupan; sederhana, tetapi penuh makna. Dari kebiasaan kecil itulah lahir keberanian besar yakni keberanian untuk hidup dengan sadar, berkolaborasi dengan tulus, dan menggenggam mimpi tanpa rasa takut. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan gentar. Takutlah hanya pada kematian; selebihnya, hadapilah dengan keyakinan dan harapan.

By RIcky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *