Oleh : Alda Syafira, M.Pd Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UI CORDOBA
Ada yang selalu berbeda setiap kali hari ketujuh setelah Idulfitri tiba. Di banyak rumah, aroma santan yang mendidih perlahan, suara daun kelapa yang dianyam, serta riuh kecil di dapur menjadi tanda bahwa tradisi belum benar-benar usai. Ketupat bukan sekadar makanan; ia adalah penanda waktu, pengikat kenangan, sekaligus bahasa sunyi tentang kasih yang sering tak terucap. Dan di balik semua itu, hampir selalu ada satu sosok yang tak tergantikan yaitu ibu.
Sejak kecil, kita tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana ketupat itu dibuat. Ia selalu ada, tersaji rapi di meja, hangat, dan seolah menjadi bagian yang memang sudah seharusnya hadir. Kita hanya tahu cara menikmatinya, bukan proses di baliknya. Hingga suatu hari, kita benar-benar memperhatikan tangan ibu yang cekatan menganyam janur, menyilang satu helai dengan helai lainnya, membentuk ruang kecil yang kelak akan diisi beras. Tangan itu bergerak pelan tapi pasti, seolah sudah hafal setiap langkah tanpa perlu berpikir.
Ketupat mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana sering kali menyimpan proses panjang yang tak terlihat. Anyamannya bukan sekadar teknik, tetapi simbol ketekunan yang terus diulang. Ibu, dengan caranya sendiri, mengajarkan bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata besar. Ia hadir dalam rutinitas, dalam pengulangan, dalam kehadiran yang tidak pernah absen.
Namun, seperti banyak hal dalam hidup, kita sering kali baru menyadari nilainya ketika ia mulai tidak lagi ada.
Apa jadinya jika suatu hari dapur itu sunyi? Tidak ada lagi suara anyaman janur, tidak ada lagi aroma santan yang khas, tidak ada lagi sosok yang tahu persis bagaimana kita menyukai ketupat lebih lembut atau sedikit padat, lebih suka bagian pinggir atau tengah. Ketupat mungkin masih bisa dibuat. Resepnya tersedia di mana-mana, caranya bisa dipelajari siapa saja. Tetapi satu hal yang tidak pernah bisa dihadirkan kembali adalah “rasa ibu” di dalamnya.
Dalam ajaran Islam, kedudukan ibu begitu tinggi. Kita mengenal kisah yang sangat masyhur dari Nabi Muhammad, ketika seorang sahabat datang dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti pertama kali?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau kembali menjawab, “Ibumu.” Untuk ketiga kalinya ditanya, dan jawabannya tetap sama: “Ibumu.” Barulah pada pertanyaan keempat, Rasulullah menjawab, “Ayahmu.”
Hadis ini bukan sekadar pengulangan, tetapi penegasan. Bahwa dalam kehidupan seorang anak, ibu memiliki tempat yang tidak bisa disandingkan begitu saja. Ada pengorbanan yang tidak terlihat, ada kelelahan yang tidak diucapkan, ada cinta yang terus mengalir tanpa pernah menuntut balasan.
Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah pernah bersabda bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Sebuah ungkapan yang sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam bahwa jalan menuju kebaikan, keberkahan, bahkan keselamatan hidup, begitu dekat dengan sosok ibu.
Ibu adalah satu-satunya orang yang tahu tanpa perlu dijelaskan. Beliau tahu makanan kesukaan kita, bahkan sebelum kita bisa mengungkapkannya. Beliau tahu kapan kita lelah, kapan kita butuh ditemani, kapan kita hanya ingin pulang tanpa banyak bicara.
Ketika ibu menganyam ketupat, ia tidak hanya sedang menyiapkan makanan. Ia sedang merawat ingatan. Ia sedang menenun kenangan agar kelak anak-anaknya punya sesuatu untuk dirindukan. Sesuatu yang sederhana, tetapi hangat. Dan barangkali, di situlah letak kehilangan yang paling sunyi.
Kehilangan ibu bukan hanya tentang tidak adanya seseorang di rumah. Ia adalah kehilangan arah dalam hal-hal kecil. Kehilangan seseorang yang tahu bagaimana membuat segala sesuatu terasa utuh. Dunia tanpa ibu mungkin tetap berjalan. Orang-orang tetap bekerja, tradisi tetap dilaksanakan, dan ketupat tetap dibuat. Tetapi ada satu hal yang perlahan memudar yaitu makna dan kehangatan kasih sayangnya. Karena ibu adalah pusat dari banyak hal yang kita anggap biasa. Ia adalah alasan mengapa sesuatu yang sederhana bisa terasa begitu berarti.
Ketupat, dalam banyak tradisi, sering dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan kesucian. Namun bagi saya, ketupat juga adalah simbol kehadiran ibu. Ia adalah cinta yang dibungkus rapi, direbus dalam kesabaran, dan disajikan dengan kehangatan. Ia tidak mewah, tetapi selalu dirindukan.
Mungkin kita tidak bisa selamanya merasakan ketupat buatan ibu. Waktu akan terus berjalan, keadaan akan berubah, dan hidup akan membawa kita pada fase-fase yang tidak selalu bisa kita pilih. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mengingat-mengingat setiap detail kecil yang dulu terasa biasa. Mengingat bagaimana ibu menganyam ketupat dengan tangan yang mungkin lelah, tetapi tidak pernah berhenti memberi.
Pada akhirnya, yang tersisa hanya ruang kosong, sudut rumah tanpa sapaan ibu, dan peluk hangatnya yang tak lagi bisa dirasakan. Selama ibu masih ada, mari kita buat beliau tersenyum lebih sering, sebelum dunia mengajarkan kita arti sepi tanpa dirinya. “Teruslah cantik dan kuat, Bu, seperti doamu yang selalu lebih dulu sampai sebelum langkah kami jatuh.” Maka, selamanya ibu tidak pernah benar-benar pergi.
